SelayangNews.com, Dumai – Dinamainasi kehidupan dan kiprah perempuan di Kota Dumai khususnya Kecamatan Dumai Timur yang menganut garis matrilineal, akhir-akhir ini banyak menjadi perhatian baik ditingkat lokal, nasional maupun global. Fokus sentral pem­ba­ngunan Sumber Daya Manusia (SDM) pada gilirannya akan mengung­kapkan berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan sebagai bagian integral dari permasalahan pembangunan. di Kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan  Dumai Timur, Jum’at 28 Februari 2020. dengan tema Penguatan kapasitas partisipasi perempuan dalam pembangunan

Fhoto : Perwakilan Perempuan-Perempuan kecamatan Dumai Timur dari Ber­bagai Elemen di Tingkat Kelurahan, ketua PKK kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur.

Demikian disampaikan Nina Yuslaini,S.IP.,M.,Si dosen ilmu pemerintahan Fisipol UIR,”Dalam upaya pemberdayaan masyarakat khususnya pemberdayaan perempuan, partisipasi dari perempuan seringkali dianggap sebagai bagian yang tidak terlepas dalam upaya pemberdayaan perempuan.

Fhoto : Perwakilan Perempuan-Perempuan kecamatan Dumai Timur dari Ber­bagai Elemen di Tingkat Kelurahan, ketua PKK kelurahan Tanjung Palas, Kecamatan Dumai Timur.

Terkait dengan konsep partisipasi ini Soewando (1984) bahwa peranan atau partisipasi wanita dalam pembangunan itu dapat dilihat dari dua sudut pandangan, yaitu : (a) wanita sebagai waga Negara dalam hubunganya dengan hak-hak dalam bidang sipil, politik, dan lain-lain, termasuk perlakuan pada wanita dalam partisipasi tenaga kerja, yang disebut sebagai fungsi eksteren, dan (b) wanita sebagai ibu dalam keluarga dan sebagai istri dalam hubungan rumah tangga, yang disebut fungsi interen. Pemberdayaan dalam kontes gender adalah pembangunan bagi perempuan dalam pengertian kemandirian dan kekuatan internal, serta menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Lanjutnya,”Dalam arti ada pengakuan makna produktif terhadap aktifitas perempuan meskipun dilakukan dalam rumah tangga sepanjang dapat menambah pendapatan rumah tangga, pembangunan organisasi perempuan, peningkatan kesadaran, dan pendidikan masyarakat seagai syarat penting perubahan sosial bagi kelompok perempuan.

“Konsep pemberdayaan perempuan ini lebih ditekankan pada keinginan atau tuntutan membagi kekuasaan, representasi dan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dalam pelaksanaan program pembangunan. Selain itu, wanita dalam keluarga seringkali menunjukan memiliki kemampuan untuk berperan ganda baik sebagai ibu rumah tangga,”tutur Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau

“Secara nyata, pada tahun 1957 melalui sidang umum PBB untuk pertama kalinya mengeluarkan reso­lusi tahun 1963 tentang partisipasi perempuan dalam pem­bangu­nan. Kemudian dilanjutkan dengan reso­lusi yang secara khusus mengakui pentingnya perempuan dalam pem­bangunan sosial ekonomi,” papar Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau Nina Yuslaini,S.IP.,M.Si

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan perempuan-perempuan kecamatan Dumai Timur dari ber­bagai elemen di tingkat kelurahan, ketua PKK kelurahan, mahasiswa Fisipol UIR Suci Meiti Friani, Made Deviwedayanti,S.AP.,M.Si, Dita Fisdian Adni S.IP.,M.Si.

Editor : Syarifah