SelayangNews.com, Malang – Pelajar berinisial ZA (18 tahun) warga Gondanglegi, Kabupaten Malang, divonis hukuman pembinaan selama satu tahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam, Wajak, Malang. Dia divonis terkait kasus pembunuhan terhadap begal.

Sidang digelar sekira pukul 10.30 WIB, Kamis 23 Januari 2020. Sidang dipimpin oleh Hakim Nuny Defiary dengan agenda pembacaan vonis. Sementara ZA, datang dalam persidangan dengan mengenakan seragam sekolah putih-putih, dengan jaket merah dan topi hitam serta mengenakan masker.

Setelah vonis dibacakan, Kuasa hukum ZA, Bhakti Reza Hidayat mengaku akan mempertimbangkan vonis dengan bermusyawarah bersama pihak keluarga terlebih dahulu. Kuasa hukum menghormati prosedur hukum di Pengadilan Negeri Kepanjen.

“Terkait putusan dari hakim tadi, dengan berbagai pertimbangan kami dengan tim dan bapaknya ZA. Kami sudah berpikir, yang jelas kita sangat menghormati prosedur hukum yang terjadi di pengadilan Kepanjen. Ada waktu 7 hari bagi kami untuk berpikir. Apakah putusan majelis hakim bisa kita terima atau tidak,” kata Bhakti usai persidangan.

Bhakti mengatakan, ada waktu 7 hari untuk berpikir mengajukan banding atau menerima vonis hakim. Saat ini kuasa hukum dan keluarga memilih mempertimbangkan terlebih dahulu. Menurutnya ada empat dakwaan yang disampaikan.

Pertama dakwaan tentang 340 KUHP tentang pembunuhan berencana tidak terbukti. Kemudian pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal membawa senjata tajam tidak bisa dibuktikan dengan sendirinya.

“Karena unsur kesengajaan untuk menyebabkan kematian itu tidak terjadi. Tapi hakim memutuskan si anak ZA ini dikenakan pasal 351 ayat 3 terkait penganiayaan yang menyebabkan kematian. Karena dipikir oleh hakim kalau dia punya rentang waktu yang cukup akhirnya terjadi proses penikaman,” ujar Bhakti.

Menurut Bhakti, Hakim tidak memikirkan tentang pasal 49 KUHP ayat 1 dan ayat 2 tentang pembelaan diri. Pasal itu tidak dimasukan dalam unsur pembenar. Hal inilah yang membuat kuasa hukum dan keluarga mempertimbangkan vonis yang diberikan.

“Kenapa hakim tidak memberikan konsern terkait dengan pasal 49 KUHP. Anak Za mengakui bahwa dia memang terjadi penikaman ya tapi tidak dilihat kenapa dia melakukan itu karena ada proses pengancaman pemerkosaan ada ancaman untuk diambil hartanya,” tutur Bhakti.

Kasus ini bermula saat ZA dan VN berada di sebuah perkebunan tebu. Dia kemudian didatangi oleh Misnan dan Ali Wafa, kedua orang itu mengancam dan melakukan pemerasaan kepada ZA dan VN. Merasa terancam karena kekasihnya akan diperkosa ZA kemudian melawan dan menusuk Misnan hingga tewas.

“Pasal 49 KUHP itu yang barangkali hari ini tidak dijadikan sebagai acuan oleh ibu hakim untuk memutuskan anak ini terkait satu tahun pembinaan dalam LKSA Darul Aitam. Sehingga kami tegaskan kami pikir-pikir dulu. Kami belum bisa menyampaikan menerima atau tidak. Karena ada waktu 7 hari,” kata Bhakti. (Vv).

Editor : Syarifah