SelayangNews.com – Sejak diumumkannya dua warga Depok positif corona, dan puluhan pegawai medis di rumahkan, sejumlah rumah sakit akhirnya melakukan pemeriksaan ketat pada seluruh pengunjung yang datang. Hal itu pun berlaku untuk pegawai, termasuk dokter.

Salah satunya seperti yang diterapkan di Rumah Sakit Jantung Diagram, Cinere, Depok, Jawa Barat. Di rumah sakit itu, seluruh pengunjung, pasien, pegawai termasuk dokter menjalani pemeriksaan secara intensif melalui alat screaning pendeteksi suhu tubuh.

“Jadi sejak kemarin kan ada pemberitahuan ada kasus corona positif dari Depok sehingga ada edaran, dan kita memang sudah pernah dishare juga tentang protokol, kalau ada kasus rumah sakit harus melakukan apa,” kata Direktur RS Jantung Diagram Cinere, dokter Hoyi Siantoresmi pada wartawan, seperti dilansir pada Rabu 4 Maret 2020

Adapun imbauan yang beredar salah satunya adalah melakukan screaning suhu tubuh kepada semua pengunjung yang berada di rumah sakit, baik pengunjung maupun pasien.

“Jadi yang besuk dan seluruh pegawai, termasuk dokter wajib diperiksa suhu tubuh. Jadi screaning awalnya adalah dengan mengukur suhu tubuh, kalau demam kita ada pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya

Hoyi menuturkan, suhu tubuh normal yakni diangka 37,5 derajat celcius. “Kalau di atas itu kita sudah anggap demam. Kami bersyukur sampai saat ini belum kita temukan kasusnya.”

 Selain itu, di rumah sakit tersebut juga telah disediakan antiseptik jell di sejumlah sudut ruangan. Kemudian, sejumlah pegawai diberikan vitamin tambahan. “Seluruh karyawan kita berikan tambahan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kita di sini ada lebih dari 106 karyawan,” ujarnya.

Seperti diketahui, dua warga Depok dinyatakan positif terjangkit virus covid 19 (corona). Keduanya sempat menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok. Alhasil, sebanyak 73 petugas medis yang diketahui sempat beriteraksi akhirnya diliburkan. Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto sempat menyesalkan keputusan manajemen rumah sakit tersebut.

 “Ya ini paranoid. Beritahu kayak gini kan dia akan sadar. Di rumahkan itukan dipensiunkan. Letaknya salah,” katanya saat mengunjungi langsung Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, pada Senin 2 Maret 2020

Menurut Terawan, langkah yang dilakukan pihak manajemen justru keliru. Seharusnya mereka tetap berada di rumah sakit agar dapat dengan mudah dilakukan pemantauan.

“Kalau dipantau di rumah itu kita kan tidak bisa masuk ke area pribadi. Ya berlebihan. Kan ada yang namanya ODP (orang dalam pengamatan), itu yang artinya dia diamati saja. Muncul keluhan atau tidak selama 14 hari. Tidak perlu menjadi public enemy.”

Terawan menganggap puluhan pegawai itu seharusnya tetap diijinkan bekerja seperti biasa. “Tidak ada masalah jadi kerja saja seperti biasa. Orang virusnya tadi sudah saya katakan, virus corona ini baru positif ini saja (dua orang). Dan ingat, angka kematiannya lebih rendah dibandingkan difteri dan sebagainya,” kata dia

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pegawai rumah sakit itu sudah biasa menghadapi difteri dan virus-virus lain yang lebih ganas dan tidak pernah ribut.

“Kita percaya bahwa teknik kita dalam mengatasinya, ilmu-ilmu yang sudah dibawakan, dokter-dokter sudah terbekali dengan baik. Karena itu tolong mengerti bahwa penyakit ini yang berbahaya adalah kalau kita memberitakannya tidak tepat pada kenyataannya.”

Terawan menegaskan, new virus no problem, news virus problem. “Artinya kalau pemberitaan yang tidak benar dilebihkan coba lihat kekacauan dunia masih ada virus corona, itukan berita-berita yang sangat tidak elok enggak ada,” tuturnya. (Vv)

Editor : Syarifah