SelayangNews.com – Marani, demikian saja kita namai wanita tersebut, adalah seorang istri yang telah menikah lebih dari 10 tahun. Namun marani mengatakan bahwa ia sudah lelah hidup bersama dengan suaminya. Ia ingin lari darinya.

Mengapa marani yang cantik itu merasakan hal demikian ? Mereka memang telah menikah lebih dari 10 tahun, namun selama 10 tahun itu ialah yang berjuang keras untuk bekerja. Suaminya yang sebenarnya sama-sama teman satu kuliah, tidak mampu menghasilkan uang.

Mereka membangun usaha mandiri, akan tetapi selama ini suaminya lebih banyak “sibuk” tapi tidak menghasilkan apa-apa. Dari produksi hingga pemasaran, marani lah yang bekerja.

Sekalipun begitu, suaminya sering menggunakan uang tanpa membuat perhitungan yang baik. Kalau marani mencoba untuk bertanya untuk apa uang yang diambil, suaminya akan marah besar. Memang suaminya pemarah. Sedikit-sedikit akan meledak. Pekerja yang membantu usaha mereka merasa sangat tertekan bila suami marani di tempat usaha kerupuk tersebut.

Jadi sehari-hari marani merasa menjadi pelampiasan kemarahan, dan merasa menjadi sapi perahan.

Yang paling menyakitkan, suaminya pernah selingkuh. Dan perselingkuhan itu dilakukan dengan pekerja penggorengan kerupuk mereka. Pekerja itu diajak oleh suaminya pergi keluar kota untuk alasan urusan buka bisnis baru, tentu saja tanpa sepengetahuan marani. Malangnya, maranilah yang memesankan 2 kamar hotel setiap kali suaminya pergi dengan pekerjanya tersebut.

Kejadian perselingkuhan itu tidak hanya sekali saja.

Marani memang luar biasa. Dalam kondisi seperti itu, ia tetap berusaha menghormati suaminya dan tetap belajar mengasihinya. Semua dilakukan dengan harapan suaminya akan berubah.

Namun setelah berjalan lebih dari 10 tahun, suaminya tidak berubah. Dan saat-saat ini marani merasa sangat lelah dengan kehidupan rumah tangganya.

Apakah marani menikah karena terpaksa ? Sebenarnya tidak. Marani menikah dengan pacarnya. Suaminya adalah salah satu pacarnya di kampus Lalu mengapa bisa terjadi demikian?

Hal tersebut karena dulu pada waktu pacaran , marani tidak melihat secara mendalam keadaan pacarnya tersebut.

Marani berasal dari keluarga kelas menengah hidup bersama orang tua dan kakaknya. Orang tuanya bekerja keras untuk bisa menyekolahkannya kakaknya menguliahkannya. Sejak kecil marani sudah bekerja keras. Sementara itu suaminya berasal dari keluarga susah. Suaminya tidak terbiasa bekerja. Hanya banyak cita cita dan ambisi saja.

Tapi selain itu, orang tua suami marani bukanlah pasangan yang harmonis. Ayah suami marani seorang pemarah. Di rumah biasa bicara keras dan berteriak, baik kepada istri maupun kepada anak-anaknya.

Jadi suami marani tidak merasa dikasihi dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Caranya berkomunikasi adalah berteriak dan marah.

Ketika mereka berpacaran marani tidak melihat keadaan keluarga ini memberi pengaruh kepada suaminya. Dulu yang dilihatnya, suaminya seorang yang ganteng dan pinter. Lebih dari itu suaminya orang yang murah hati, bukan hanya kepada dirinya, tetapi juga kepada teman-teman di kampus.

Mereka sering ketemu, akan tetapi marani tidak melihat lebih dalam kehidupan pacarnya, dan tidak berpikir bahwa teman temannya dengan keluarga itu memberi pengaruh yang besar pada diri suaminya.

Begitu mereka menikah, marani baru menyadari bahwa suaminya ternyata orang yang tidak mampu bekerja, tidak mampu memimpin, pemarah, boros, dan selingkuh.

Seandainya dulu marani memberi perhatian lebih dalam hidup pacarnya, pastilah dia terhindar dari pernikahan yang menyedihkan seperti ini.

Sebenarnya dulu, ada seorang pembimbing yang meminta marani mempertimbangkan dengan seksama pilihannya. Pembimbing itu melihat bahwa pacarnya tidak cukup dewasa. Akan tetapi karena marani tidak merasa melihat hal itu, maka dia tidak percaya. Jadi dia nekad menikah. Sekarang dia baru mengerti betapa tepat penglihatan pembimbing itu.

Andri sudah menikah sekitar 10 tahun. Hari-hari ini dia nampak murung. Setelah beberapa waktu dia bercerita mengapa dia murung. Istrinya minta rumah, dan tidak mau lagi tinggal di rumah yang mereka pakai saat ini. Sebab itu rumah milik sepupu andri yang dipinjamkan. Istrinya tidak mau berlama-lama di rumah pinjaman.

Yang menjadi masalah andri adalah bahwa dia sekarang tidak memiliki uang, sebab uang tabungannya telah dipakainya membeli motor dan tanah kaplingan rumah. Tapi kaplingan rumah tersebut mukin 40 tahun lagi baru ramai penghuni nya.

Sekarang istrinya minta untuk membeli rumah. Andri bingung. Belum cukup uang untuk uang muka. Istrinya tidak mau tahu, bahwa dia baru saja pindah kerja dan belum cukup punya tabungan. Istrinya bilang, bahwa tugas suami menyediakan rumah bagi keluarga.

Setelah menikah Andri baru tau kalau berkeluarga itu butuh biaya, rumah isi rumah pakaian istri pakaian anak, susu anak. Andri berpikir cukup makan cinta dan bekerja mencari nafkah bersama istri nya.
Ternyata berkeluarga butuh banyak biaya

PELAJARAN

  1. Sebelum menikah kenali calon pasangan kita.

  2. Kenali kepribadiannya secara utuh, dan terutama kenalilah sejarah keluarganya dan perkembangan hidupnya serta kedaanya

  3. Sadari bahwa selama berpacaran mata batin sering lemah. Lebih kepada mata fisik, sehingga kepribadian yang lebih dalam seringkali tidak terlihat.

  4. Penting mendengar pendapat orang-orang dewasa yang bijaksana untuk membuka mata batin kita.

  5. Kesalahan memilih akan berakibat duka berkepanjangan.